Memasuki pendidikan baru, bikin gue jadi seger lagi. Walaupun sebenarnya gue kayak gak ngerasa ada perubahan dalam diri gue. Soalnya kuliah masih ditempat yang sama dengan dosen yang sama pula. Yang membedakan adalah suasana kelasnya. Sekarang temen-temen gue rata-rata udah pada punya kerjaan tetap dan dewasa (FYI di kelas gue yang umurnya paling muda). Selain itu gue masuk dalam program DDIP yang notabene bakalan bekerja lebih keras lagi.
Awal Karir jadi RangeR
“San, Ngga, lo jadi dosen juga?, Alhamdullilah gue gak sendirian, hehe“
Ucapan itu pertama kali gue lontarkan pas ketemu Sandy dan Angga setelah beberapa minggu pertemuan gue dengan kadept kala itu. Kita bertiga didaulat buat jadi asisten dalam administratif DDIP UI (pada kenyataannya bakalan untuk seluruh universitas klo udah di perancis). Sebelum lebih lanjut, gue jelasin secara singkat apa itu DDIP.
DDIP a.k.a. Double Degree Indonesia Perancis adalah program kerjasama pendidikan antara DIKTI dengan pemerintah Perancis dalam hal ini melalui kedutaannya yg ada di Jakarta. Kerjasamanya meliputi penyelenggaraan pendidikan Magister dan Doktor. Mekanisme singkatnya Master 1 tahun di Indonesia dan 1 tahun di Perancis sedangkan doktor 1 tahun di Indonesia , 2 tahun di perancis dan 1 tahun di Indonesia. Untuk tahun pertama di Indonesia, selain belajar tentang bidang akademis masing – masing. Kami juga dihadapkan harus belajar bahasa perancis. Mengapa harus belajar bahasa perancis, kan sekarang seluruh kampus biasanya sudah punya kelas Internasional? Ini yang menarik, ternyata seperti halnya orang Indonesia yg lebih nyaman mengajar menggunakan bahasa Indonesia, disana pun mereka lebih nyaman menggunakan bahasa ibu mereka. Lagipula untuk kelas Internasional tidak disubsidi oleh pemerintah perancis sehingga biaya pendidikannya mahal dan tidak pula ditanggung oleh mekanisme pembiayaan beasiswa. Kekurangannya, kita memerlukan energi lebih untuk belajar bahasa Perancis. Disisi lain, kelebihannya, ya bahasa perancis gitu. Minimal keliatanlah keren kalo ngomong.
Jakarta-Dubai-Paris-Lyon
Gak terasa 1 tahun di jenjang master di UI telah dilewati. Itu artinya gue harus melanjutkan tahun ke dua di Perancis. Kampus yang gue pilih sama persih dengan kampus dosen pembimbing skripsi S1 gue, yaitu INSA Lyon. Hal ini bukan direkayasa untuk samaan tapi murni karena pilihan gue sendiri. Untuk memudahkan gue di Perancis, gue milih tanggal keberangkatan tanggal 7 Septembre 2011. Kenapa harus tanggal 7 septembre 2011? Gak ada alasan khusus kok.